Web Hosting
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Penemuan-Penemuan favorit Astronomi

PictureHAWAII (Suaramedia) Bertahun-tahun lamanya astronom dunia selalu berusaha mencari tahu keadaan dunia luar, melalui teknologi yang semakin canggih.

Penemuan-penemuan ini ternyata patut diacungi jempol. Pasalnya, telah ditemui titik terang akan apa sebenarnya yang terjadi di luar bumi, meskipun masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan itu semua. Sedangkan untuk keadaan planet di luar bumi, astronom memastikan ada sekira 50 planet baru yang terbentuk pada tahun ini. "Ini merupakan tahun yang sangat menarik untuk penemuan eksoplanet. Bahkan bantuan teknologi canggih, seperti teleskop baru, benar-benar memungkinkan para astronom untuk melakukan pengukuran yang lebih akurat yang mampu membawa kita menemukan hal-hal yang tidak mungkin," ujar astronom dari Universitas Hawaii, seperti dikutip melalui space.com, Kamis (25/12/2008).

Inilah lima penemuan terfavorit yang terjadi pada tahun 2008,

1. Dunia Alien

Satu-satunya hal yang sangat ingin diketahui oleh para astronom, dan masyarakat dunia, adalah keberadaan mahluk lain selain manusia. Jawaban tersebut sepertinya akan mulai terkuak dengan beberapa temuan yang dihasilkan oleh para astronom. Misalnya saja, jumlah planet luar yang kini semakin bertambah, total telah mencapai 300 planet. Bahkan, para astronom tersebut telah berhasil mendapatkan pencitraan dari beberapa planet tersebut. Planet-planet tersebut pun memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Ada yang memiliki ukuran tiga kali lipat lebih berat dari bumi, planet dengan panas mencapai 4.000 derajat farenheit, dan tiga buah planet mirip bumi yang berjalan mengelilingi bintang.

2. Kehidupan di Mars

Planet merah (Mars) merupakan planet yang mendapatkan konsentrasi penuh dari para astronom. Bahkan mereka sampai membuat sebuah robot yang mampu menelusuri dataran Mars. Nasa Phoenix berhasil mendarat di Mars pada bulan Mei lalu. Dari sinilah diketahui bahwa planet Mars mampu dihidupi oleh manusia karena terdapat sumber air di dalamnya.

3. Dark Energy

Para ilmuwan kali ini dikejutkan dengan adanya energi misterius yang telah menjalar ke seluruh jagat raya dengan cepat. 'Kekuatan' misterius yang biasa disebut sebagai energi kegelapan ini telah ditemukan sekira 10 tahun lalu. Ilmuwan terus menerus berusaha untuk mencari tahu apa sebenarnya dark energy ini secepatnya. Pasalnya, diprediksi waktu yang tersisa tidak akan lama lagi, untuk menemukan teka-teki dark energy ini.

4. Black Hole

Black Hole merupakan suatu bentuk ketebalan yang akan mencengkeram apa saja yang ada di jagat, termasuk cahaya,. Meskipun bentuknya tidak terlihat namun para astronom yakin bahwa ini merupakan pertanda kehadiran sebuah objek besar yang akan mendekati bumi. Ukuran black hole ini diprediksi semakin membesar, dengan berat 3,8 kali lebih besar dari matahari serta berdiameter 15 mil. Sebuah simulasi komputer menunjukkan bahwa ketika dua black hole saling bersatu, energi yang dihasilkan akan membuat black hole lainnya terbentuk di luar galaksi.

Untuk pertama kalinya di tahun ini, para ilmuwan berhasil mendeteksi sebuah black hole yang memiliki kecepatan sekira 2.650 kilometer per second.

5. Terpecahkannya Misteri Merkurius

Planet Merkurius selalu menjadi misteri bagi para ilmuwan. Pada 14 Januari, NASA MESSENGER berhasil melakukan pendaratan pertamanya di Merkurius dan mengambil gambar-gambar yang ada mengenai topografi planet tersebut. (srn/okz)
»»  Baca Selengkapnya...

Ilmuwan Eropa Temukan 32 Planet Baru

PictureIlmuwan Eropa Temukan 32 Planet Baru Astronom-astronom Eropa mengumumkan telah menemukan 32 planet baru yang mengorbit sejumlah bintang di luar sistem tata surya kita dan menyatakan, Senin, hasil temuan itu menunjukkan bahwa 40 persen atau lebih dari bintang seperti Matahari memiliki planet-planet semacam itu.

Planet-planet itu memiliki ukuran mulai dari sekitar lima kali Bumi hingga lima kali Yupiter, kata mereka.

Sejumlah planet lain juga telah ditemukan dan para astronom itu berjanji akan mengumumkan hal itu akhir tahun ini.

Penemuan terakhir itu membuat jumlah planet yang ditemukan di luar sistem tata surya kita menjadi sekitar 400, kata Stephane Udry, dari Observatorium Jenewa di Swiss.

"Alam sepertinya tidak kosong, jika ada ruang untuk planet maka akan ada planet di sana," kata Udry kepada wartawan dalam penjelasan Internet dari pertemuan astronom di Porto, Portugal.

"Lebih dari 40 persen bintang seperti Matahari memiliki planet-planet dengan massa rendah," tambahnya.

Tim astronom itu menggunakan spektrograf HARPS (Pencari Planet Kecepatan Cahaya Akurasi Tinggi) yang dipasang pada teleskop 3,6 meter Observatorium Selatan Eropa (ESO) di La Silla, Chile.

Spektrograf itu tidak menggambarkan planet-planet tersebut secara langsung namun ilmuwan bisa menghitung ukuran dan massanya dengan mendeteksi perubahan kecil pada getaran bintang yang ditimbulkan oleh tarikan gravitasi kecil planet.

Para astronom ingin menemukan planet-planet seperti Bumi karena ini merupakan tempat yang paling memungkinkan untuk menopang kehidupan.

HARPS telah menemukan 75 planet yang mengitari 30 bintang yang berbeda. Tim ESO tidak memberikan penjelasan terinci mengenai bintang-bintang apa yang diorbit oleh ke-32 planet baru itu.
»»  Baca Selengkapnya...

Astronom Amerika Temukan Dunia Lain

PictureAstronom Amerika Temukan Dunia Lain Sejumlah astronom Amerika mengatakan, mereka menemukan dua lagi planet sebesar Neptunus yang mengitari bintang-bintang di luar sistem tata surya kita.


Mereka menyatakan, penemuan dunia terkecil yang terlihat mengitari bintang-bintang lain itu merupakan terobosan dalam penelitian tentang dunia-dunia lain dan kehidupan di luar angkasa.

Planet-planet itu hanya sekitar 15 kali lebih besar dari Bumi. Dunia yang sebelumnya dikenal adalah kelas Yupiter sekitar 318 kali lebih besar dari Bumi.

Satu dari planet baru itu berada dalam sistem empat planet pertama yang pernah ditemukan. "Kami hampir menemukan dunia sebesar Bumi yang sebenarnya," kata pemburu planet Geoff Marcy dari Universitas California.

Menggunakan teleskop di Hawaii, California, dan Texas, para astronom itu menemukan planet-planet sebesar Neptunus pertama di luar sistem tata surya kita.

Salah satu di antaranya mungkin hanya 14 kali massa Bumi, yang mungkin cukup kecil untuk memiliki permukaan padat dan temperatur yang mungkin mendatangkan kehidupan.

"Ukuran planet-planet itu agak aneh, namun kami tidak berpikir tentang massa Yupiter atau Saturnus, namun massa Bumi," kata Geoff Marcy.

Membingungkan

"Semua eksoplanet yang ditemukan sejauh ini sebagian besar gas-gas raksasa, namun planet-planet baru ini membingungkan - mereka mungkin berbentuk gas seperti Yupiter, namun planet-planet itu mungkin juga memiliki inti es batu dan tertutup gas hidrogen dan helium, seperti Neptunus, atau mereka mungkin kombinasi batu dan es, seperti Merkurius."

Profesor Marcy dan koleganya Paul Butler, dari Institut Carnegie Washington, serta Barbara McArthur dari Universitas Texas, ketua tim kedua, mengumumkan penemuan mereka pada konferensi pers NASA.

Dua halaman yang memerinci penemuan planet baru itu diserahkan ke The Astrophysical Journal Juli lalu dan diterima.

Deteksi planet di luar tata surya sebesar Neptunus, yang belum ditinjau dengan seksama dalam satu jurnal, diumumkan astronom Eropa pada 25 Agustus lalu.

Ketiga planet ini ditemukan dengan meneliti goyangan bintang itu yang disebabkan oleh tarikan gravitasi planet pada bintang saat mengitarinya. Tarikan tersebut menimbulkan geseran Doppler pada sinar yang dipancarkan bintang itu.

Para peneliti menyatakan planet-planet baru itu, meski besarnya hampir sama dengan Bumi, bentuknya sama sekali tidak mirip Bumi. Kedunya mengitari bintang-bintang mereka dalam beberapa hari dan sangat dekat saat terbakar pada bagian yang menghadap bintang itu.

Planet Keempat

Planet yang lebih kecil dari dua planet itu, dengan massa minimum 14 massa Bumi, ditemukan McArthur dan timnya di sekitar bintang 55 Cancri.

Itu merupakan planet keempat yang ditemukan di sekitar 55 Cancri, bintang kuning G yang letaknya hanya 41 tahun cahaya dari Bumi dalam konstelasi Cancer. "Mungkin ada planet-planet lain di sistem ini," kata McArthur.

Planet yang lebih besar, dengan ukuran minimum 21 kali massa Bumi, mengitari bintang merah M, Gliese 436, yang sekitar 50 kali lebih suram dibandingkan matahari kita dan terletak 33 tahun cahaya dalam konstelasi Leo.

Jika planet yang mengitari Gliese 436 itu memiliki sedikit atmosfer untuk menyebarkan panas, planet itu mungkin memiliki temperatur 377 derajat Celsius di sisi yang menghadap bintang. Di sisi itu, planet tersebut mungkin siang terus, dan saat temperaturnya puluhan derajat di bawah nol, planet itu akan mengalami malam terus.

Namun, temperatur di batas senja mungkin lebih nyaman, paling tidak dari perspektif Bumi, kata Marcy. "Bagian depan panas dan belakang mungkin dingin, namun daerah di antaranya mungkin memiliki temperatur moderat antara 0 dan 100 derajat Celsius," jelasnya.

Penemuan planet-planet terkecil secara bersamaan ini mungkin menunjukkan keberadaan mereka sudah biasa, tambah Marcy.(bbc-niek-46)
»»  Baca Selengkapnya...

Asteroid kecil bisa disangka Serangan Nuklir

PictureAsteroid-asteroid kecil yang memasuki atmosfer Bumi namun tidak pernah sampai jatuh ke tanah, ternyata dapat saja mendatangkan dampak mematikan.

Sebab, asteroid-asteroid tersebut mungkin dikira ledakan nuklir oleh negara-negara yang peralatannya tidak mampu menunjukkan perbedaan antara suatu benda angkasa dan rudal musuh, kata para ilmuwan AS.

Satu peristiwa seperti itu terjadi pada 6 Juni lalu, ketika satelit-satelit AS memberikan peringatan dini yang mendeteksi suatu kilatan cahaya di atas Mediterania (kawasan Laut Tengah).

Kilatan itu mengindikasikan adanya pelepasan energi besar seperti anergi bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang, kata Brigadir Jenderal AD AS Simon Worden, di hadapan sidang DPR AS yang membahas isu ruang angkasa dan aeronautika, akhir pekan lalu.

Kilatan cahaya tersebut terjadi, ketika sebuah asteroid mungkin berdiameter 10 meter jatuh ke lapisan atmosfer Bumi, menghasilkan gelombang kejut yang akan mengguncang setiap kapal yang berlayar di kawasan tersebut dan mungkin menyebabkan kerusakan kecil, kata Worden.

Sedikit pemberitahuan diberikan mengenai peristiwa tersebut pada saat itu, tapi Worden mengatakan jika itu terjadi selama beberapa jam sebelumnya dan berlangsung di atas India dan Pakistan, akibatnya mungkin mengerikan.

''Menurut pengetahuan kami, tidak satu pun dari negara-negara itu memiliki sensor canggih yang dapat menentukan perbedaan antara objek dekat Bumi (NEO) alami, seperti asteroid, dan suatu ledakan nuklir,'' tambahnya.

619 Objek

''Kepanikan yang timbul di negara-negara bermusuhan yang masing-masing punya senjata nuklir bisa pecah dan menyulut perang nuklir yang kita hindari selama lebih dari separo abad,'' kata dia, pada sebuah komisi DPR yang menyidik risiko dari asteroid atau objek lain yang mungkin membentur Bumi.

''Pada saat Capitol Hill (Kongres AS) Putih sibuk membicarakan Presiden Saddam Hussein dan ancaman potensial Irak karena bisa menguasai senjata pemusnah massal, kita perlu mencatat bahwa ada objek-objek di luar angkasa yang mungkin mengarah ke Bumi, yang mengandung begitu banyak kekuatan destruktif sehingga membuat Saddam Hussein tampak menjadi faktor tidak berbahaya pada kehidupan kita,'' kata Dana Rohrabacher dari Partai Republik, California, yang menjabat sebagai ketua sidang itu, kepada peserta sidang.

Para pakar astronomi telah lama prihatin atas kerusakan akibat asteroid dan komet. Sejak 1998 NASA (Badan Penerbangan dan Antariksa AS) telah mengidentifikasi 90 persen dari seluruh NEO - objek-objek berdiameter satu kilometer atau lebih - pada 2008.

Kepala bidang ilmu ruang angkasa NASA, Ed Weiler, mengatakan pada komisi tersebut bahwa para ilmuwan telah mengidentifikasi 619 objek yang diduga asteroid besar dan berbahaya, yang sekitar separo pakar astronomi yakin asteroid-asteroid itu ada di sekitar Bumi.

Jenis asteroid besar tersebut membentur Bumi beberapa kali setiap jutaan tahun, dan ketika itu terjadi, menyebabkan bencana regional.

Sebaliknya, asteroid berdiameter 4,8 kilometer yang disebut penyebab kiamat - seperti diyakini orang telah memusnahkan dinosaurus - membentur Bumi sekali setiap sepuluh juta tahun atau lebih.

Dua Kali Setahun

Salah satu yang menyebabkan kilatan cahaya di atas Mediterania pada Juni lalu, mungkin asteroid berukuran sebesar mobil, dan tidak berbahaya bagi Bumi. Asteroid seperti itu memasuki atmosfir dua kali sebulan.

Namun asteroid-asteroid berukuran berkisar dari 30 meter sampai ratusan meter dapat menyebabkan kerusakan serius, termasuk menimbulkan gelombang kejut yang luar biasa atau tsunami jika asteroid itu jatuh di laut, yang menyebabkan bencana meluas jika tsunami terjadi dekat pantai berpenduduk.

Asteroid berukuran kecil tidak menjadi bagian penelitian NASA, dan Worden berpendapat yang kecil-kecil itu mungkin lebih baik menjadi peran Angkatan Udara AS untuk melacaknya.

Menurutnya, juga penting untuk memberikan peringatan dini mengenai benda-benda angkasa yang memasuki Bumi kepada negara-negara lain yang tidak memiliki teknologi tersebut.

Worden mengatakan, Amerika Serikat negara satu-satunya di dunia yang memiliki kemampuan dalam waktu kurang satu menit untuk menentukan apakah sebuah objek angkasa yang meluncur ke Bumi adalah asteroid atau bom.

Negara itu menghabiskan sekitar empat juta dolar AS (sekitar Rp 36 mi-liar) setahun untuk melacak asteroid dan komet, tapi sangat sedikit strategi yang menjauhkan asteroid dan komet itu dari Bumi, kata para ilmuwan bulan lalu.(rtr-ben-30)
sumber : suaramerdeka.com
»»  Baca Selengkapnya...

Teleskop Hubble Tangkap "Katak Hijau" Antariksa

Teleskop Hubble berhasil menangkap citra gumpalan gas berwarna hijau di luar angkasa yang tampak seperti katak hijau sedang menari di wilayah berjarak ratusan juta tahun dari Bumi.
Astronom mengungkapkan, gumpalan gas itu dalam kondisi "hidup" yang berarti  melahirkan bintang baru. Beberapa bintang yang dilahirkannya diketahui masih sangat muda, baru berumur beberapa juta tahun.


Ukuran gumpalan gas itu sama dengan ukuran galaksi Bimasakti. Jaraknya 650 juta tahun cahaya. Foto gumpalan gas tersebut dipublikasikan Senin (10/1/2011) di American Astronomical Society Meeting yang berlangsung di Seattle.
Bill Keel, astronom dari Universitas Alabama yang mengamati gumpalan gas ini, mengatakan, si katak hijau itu ditemukan di wilayah terpencil semesta tempat kelahiran bintang baru yang jarang ditemukan.
"Ini menjadikan bintang baru yang lahir menjadi bintang kesepian. Mereka berada di wilayah entah-berentah," kata Keel. Bintang baru lahir karena ada bagian yang kolaps dan menghasilkan tekanan sehingga memicu kelahiran bintang.
Gumpalan gas ini sebenarnya telah ditemukan tahun 2007 oleh seorang guru asal Belanda, Ariel van Arkel. Sesaat setelah penemuannya, gumpalan gas ini lalu diberi nama Hanny's Voorwerp. Voorwerp berarti obyek dalam bahasa Belanda.
Arkel menemukannya dalam proyek Galaxy Zoo, yaitu sebuah proyek yang memungkinkan orang awam mengamati bintang dan menemukan obyek baru. Saat ditemukan, gumpalan gas ini sebenarnya berwarna biru dan berukuran lebih kecil.
"Waktu itu sebenarnya gumpalan ini berwarna biru dan berukuran lebih kecil. Tapi, kini menjadi seperti katak hijau yang menari di luar angkasa karena berwarna hijau," kata Arkel saat diwawancara Associated Press.
Astronom mengungkapkan, sebagian besar gumpalan gas ini adalah hidrogen yang berasal dari dua galaksi yang berdekatan. Gumpalan gas bercahaya sebab diiluminasi oleh kuasar dari salah satu galaksi. Kuasar adalah obyek paling terang di semesta yang mendapatkan energi dari lubang hitam.
»»  Baca Selengkapnya...

Kluster Galaksi Terjauh Sudah Ditemukan

National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan tim astronom internasional berhasil menemukan kluster galaksi terjauh di semesta. Kluster bernama Cosmos-Aztec3 tersebut berjarak 12,6 juta tahun dari bumi dan merupakan kluster galaksi termuda yang pernah ditemukan.
Profesor Bahram Mobasher dari Universitas California yang terlibat dalam studi ini mengatakan, kluster tersebut merupakan sebuah kluster galaksi yang sedang dalam proses pembentukan, yang disebut dengan proto kluster.

"Berumur lebih dari 12 miliar tahun, kluster tersebut terbentuk 1 miliar tahun setelah Big Bang," ujarnya.

Kluster galaksi ini dilukiskan seperti kumpulan kota-kota kecil. Suatu saat, galaksi-galaksi kecil itu akan bergabung membentuk galaksi yang lebih besar, seperti kota kecil yang tumbuh menjadi metropolitan. Atau, bisa juga disebut kluster galaksi primitif yang akan berkembang menjadi galaksi modern.
Cosmos-Aztec3 ini ditemukan dan dikarakterisasi dengan beragam teleskop, mulai dari Chandra X-Ray Observatory dan James Clerk Maxwell, hingga teleskop Subaru milik Jepang dan Hubble and Spitzer milik NASA. Tiap teleskop digunakan untuk tujuan karakterisasi yang berbeda.
Penemuan kluster ini ternyata cukup mengejutkan sebab observasi dengan Chandra X Ray menemukan adanya lubang hitam yang 3 juta kali lebih masif dari matahari. Hal itu tak lazim ditemukan pada kluster galaksi yang masih berusia muda seperti Cosmos-Aztec3.
Hal lain yang mengejutkan adalah, keseluruhan obyek dalam kluster itu memiliki massa lebih dari 400 miliar matahari. Kluster galaksi ini juga sangat aktif, kaya gas dingin, tumbuh dengan kecepatan yang signifikan, serta mampu membentuk 4.000 bintang setiap tahun.
Cosmos-Aztec3 diketahui terletak di konstelasi Sextans. Namanya diambil dari nama misi pencariannya, yakni Cosmos (Cosmic Evolution Survey). Sementara itu, Aztec adalah nama kamera yang terdapat di James Clerk Maxwell Telescop di Manua Kea, Hawai.
Adapun penemuan ini dipublikasikan dalam Jurnal Nature edisi terbaru. Tim peneliti yang terlibat dalam riset ini juga mempresentasikannya dalam pertemuan tahunan American Astronomical Society yang berlangsung pekan ini di Seattle, Amerika Serikat.
»»  Baca Selengkapnya...

NASA Temukan Planet di Luar Tata Surya


Ilmuwan dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat berhasil menemukan planet terkecil di luar tata surya. Nama planet yang diumumkan Senin (10/1/2011) tersebut adalah Kepler 10-b, dinamai sesuai dengan nama teleskop yang digunakan untuk menemukannya.
Penemuan planet ini adalah hasil pengumpulan data dari teleskop ruang angkasa sejak Mei 2009 hingga awal Januari 2010. Natalie Batalha, ilmuwan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat  (NASA) yang menemukan planet tersebut, mengungkapkan bahwa Kepler merupakan planet berbatu, sama seperti Bumi. Ini membedakan dengan beberapa jenis planet lain yang terdiri atas massa gas.
Ukuran Kepler 10-b tergolong terkecil sebab hanya 1,4 kali ukuran Bumi. Sementara itu, massa planet ini sekitar 4,5 kali massa Bumi. Sejauh ini belum pernah ditemukan planet mirip Bumi di luar tata surya yang berukuran sekecil ini.
Meski mirip dengan Bumi karena terdiri atas batuan, suhu planet ini terlalu panas. Salah satu sisinya bersuhu 2.700 derajat Fahrenheit. Menurut pendapat ilmuwan, suhu panas ini disebabkan jarak Kepler 10-b dan bintangnya 20 kali lebih dekat dibandingkan jarak Merkurius-Matahari.
Karena suhu panasnya, Batalha berpendapat bahwa planet ini tak mampu mendukung kehidupan.
»»  Baca Selengkapnya...

Planet Terpanas Lebih Panas dari Bintang


Astronom yang terlibat dalam proyek Super Wide Angle Search for Planets (SuperWASP) telah menemukan planet terpanas bernama WASP-33b. Suhu planet tersebut lebih panas dari suhu beberapa bintang.
Keberadaan planet itu telah diduga sejak tahun 2006 lalu namun baru dikonfirmasi tahun 2010 kemarin. Diketahui, planet tersebut tergolong dalam jenis planet gas dengan massa kurang dari 4,5 kali massa Jupiter.
Berdasarkan observasi dengan William Herschel Telescope, suhu WASP-33b mencapai 3200 derajat Celsius. Suhu itu lebih panas daripada bintang katai merah yang bersuhu 700 derajat Celsius dan WASP-12b yang suhunya 2300 derajat Celsius.
Salah satu penyebab panasnya suhu planet itu adalah suhu bintang induknya yang juga panas. Astronom mengatakan, suhu bintang induk planet itu adalah 7160 derajat Celsius, lebih tinggi dari suhu matahari yang hanya 5600 derajat Celsius.
Sementara, sebab lain adalah kedekatan jarak orbit WASP-33b dengan bintang induknya. Dengan jarak hanya 7 persen dari jarak Merkurius-Matahari, planet ini seakan menjadi "ketularan" panas bintang induknya.
Studi tentang planet ini dipimpin oleh Alexis Smith dari Universitas Keele di Stafordshire, Inggris. Lewat studi ini, astronom juga mengetahui bahwa waktu revolusi planet ini sangat singkat, hanya 29,5 jam.
Drake Demming dari Goddard Space Flight Center NASA di Greenbelt, Maryland yang tidak terlibat penelitian ini mengatakan, "WASP-33b bisa membantu astronom menelaah planet panas yang karakteristisknya masih misteri."
Hal yang bisa dipelajari misalnya adanya planet berorbit dekat dengan bintangnya yang memiliki lapisan atmosfer luar lebih dingin dari lapisan dalamnya. Ini mengejutkan karena planet tersebut "dipanaskan" dari luar.
Deming mengatakan, fakta itu bisa berkaitan dengan adanya senyawa berbasis karbon yang mengubah cara atmosfer merespon radiasi. Senyawa kimia tertentu bisa terbentuk akibat sinar ultraviolet dari bintang.
"Ini pastinya akan menjadi planet yang ingin Anda lihat. Ini adalah kesempatan yang sangat langka untuk bisa mempelajari planet yang mengorbit pada bintang yang super panas," pungkas Deming dalam interview-nya dengan New Scientist.
»»  Baca Selengkapnya...

Kerumunan Bintang di Flickr


Coba cek Yahoo! Flickr. Buka koleksi foto ESO Hidden Treasures. Anda akan menemukan foto-foto antariksa mengagumkan olahan fotografer amatir dan astronom amatir yang punya sense artistik.
Foto-foto tersebut merupakan hasil kompetisi yang digelar European Southern Observatory (ESO) yang bertajuk Hidden Trasures Astrophotography Contest. Dalam lomba itu, ESO meminta pesertanya untuk mengolah citra angkasa hitam putih yang berhasil ditangkap menjadi foto-foto menarik.
Salah satu koleksi foto terbaik adalah yang dijepret oleh Igor Cheakalin dari Rusia. Ia berhasil mengubah citra Nebula Orion yang milik ESO menjadi foto nebula yang menawarkan warna natural seperti pink dan biru. Dalam mengolahnya, ia mencoba menggunakan beberapa kombinasi baru channel.
Foto lainnya menunjukkan citra 3 galaksi spiral, yaitu NGC 3169, NGC 3166 dan NGC 3165. NGC 3169 adalah galaksi spiral yang terletak di konstelasi Sextans. Galksi ini secara memiliki interaksi dengan galaksi NGC 3166 yang terletak berdekatan dengannya.
Selain foto Igor, terdapat pila foto M Rasid Tugral yang menunjukkan NGC 288, kluster globuler di konstelasi Scluptor. Dalam citra olahannya, NGC 288 tampak seperti citra kerumunan ribuan bintang. Tugral juga mengolah citra Messier 74, galaksi spiral di konstelasi Pisces.
Pihak ESO mengatakan, memroses citra angkasa tergolong sulit, membutuhkan dukungan alat yang kompleks seperti Scisoft. Tapi para amatir ini bisa melakukan sebaik para profesional. Dikatakan, pemenang kontes ini akan memenangkan trip ke Chile.
»»  Baca Selengkapnya...

Ledakan Bintang Termuda di Galaksi Bima Sakti

Para astronom telah mendeteksi terjadinya supernova di Galaksi Bima Sakti yang terjadi 140 tahun lalu. Ledakan bintang yang terjadi di dekat pusat Galaksi Bima Sakti itu mungkin peristiwa supernova paling muda sepanjang catatan sejarah.

Peristiwa tersebut didaftarkan dengan nama G1.9+0.3. Lokasi kejadian berada pada rasi bintang Sagitarius yang berjarak 26.000 tahun cahaya dari Bumi.

Terjadinya supernova tersebut sekitar dua abad lebih muda daripada Cassiopeia A, supernova termuda sebelumnya di Galaksi Bima Sakti yang terjadi tahun 1680. Tim astronom yang dipimpin Stephen Reynolds dari Nortyh Carolina State University tidak merekamnya langsung dengan teleskop namun melacaknya dari jejak partikel-partikel yang dipancarkan ke sekitarnya.

Partikel yang disebut SNRs (supernova remnants) ini tak terdeteksi teleskop optik namun jelas terlihat menggunakan teleskop radio atau sinar-X. Identitas supernova dianalisis dari citra rekaman teleskop di observatorium sinar-X Chandra dan teleskop radio VLA (very large array) di National Radio Astronomy Observatory.

"Beruntung sekali, pergerakan gas akibat ledakan ini masih jelas terlihat dalam gelombang radio dan sinar-X meski sudah ribuan tahun," ujar Reynolds yang melaporkan penelitian tersebut dalam the Astrophysical Journal edisi 10 januari 2008. Pacaran cahaya akibat ledakan tersebut diperkirakan dapat dilihat antara tahun 1870-1900 dan mungkin telah menghasilkan bintang baru.

Supernova selama ini memang diyakini memegang peran penting dalam siklus hidup matinya galaksi. Ledakan tersebut terjadi saat sebuah bintang mendekati ajalnya karena kehabisan seluruh bahan bakarnya. Hal tersebut menyebabkan dindingnya runtuh ke dalam intinya dan memicu reaksi ledakan yang memancarkan semua materinya dan cahaya menyilaukan.

Pancaran partikel ikut memicu pembentukan bintang baru. Di lain pihak, seiring dengan bergeraknya partikel-partikel yang dipancarkan, pusat ledakan dapat membentuk bintang neutron atau sebuah lubang hitam. Supernova tergolong jarang karena saat ini diperkirakan terjadi tiga supernova di Galaksi Bima Sakti dalam seabad.
»»  Baca Selengkapnya...

Lubang Hitam di Galaksi Tetangga


SEBUAH lubang hitam (black hole) terdeteksi di galaksi yang dekat dari Galaksi Bimasakti. Lubang hitam tersebut mungkin kembaran lubang hitam yang ada di galaksi tempat tata surya kita berada.
Galaksi yang disebut NGC 253 merupakan salah satu galaksi spiral yang mengandung banyak sekali bintang dan debu angkasa yang pekat. Karena letaknya di konstelasi Sculptor, galaksi tersebut juga disebut Galaksi Sculptor. Galaksi tersebut juga disebut galaksi starbust karena banyaknya bintang yang terbentuk di dalamnya.
Para astronom dari Instituto de Astrofisica de Canaries di Spanyol berhasil merekam dengan detik galaksi tersebut menggunakan instrumen optik adaptif di teleskop raksasa VLT (very large telescope) milik ESO (European Southern Observatory) yang ada di Gurun Atacama, Chili. Peralatan tersebut dilengkapi dengan instrumen optik dan cermin yang mengatasi efek blur akibat pembiasan di atmosfer sehingga kemampuan teleskop terestrial ini setara dengan teleskop ruang angkasa.
"Pengamatan kami menghasilkan rincian gambar yang jauh lebih jelas," ujar Juan Antonio Fernandez-Ontiveros. Dari gambar tersebut, para astronom menemukan 37 daerah cemerlang yang berada di satu kawasan sempit di pusat galaksi.
Bintang-bintang yang sangat rapat itu berkumpul di satu daerah yang hanya mewakili satu persen besar galaksi. Di kawasan tersebut mungkin terdapat pusat kelahiran bintang yang terbentuk di gumpalan debu yang sangat pekat.
Selain itu, hasil pemantauan yang dikombinasikan dengan pengukuran gelombang maupun citra teleskop ruang angkasa Hubble menunjukkan adanya aktivitas gelombang radio yang sangat tinggi di kawasan tersebut. Para peneliti yakin di pusat galaksi ini terdapat sumber pancaran gelombang radio seperti Sagittarius A di dekat pusat galaksi Bima Sakti yang merupakan tempat terbentuknya lubang hitam.
"Kami mungkin menemukan kembaran pusat galaksi kita," ujar Almudena Prieto. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Monthly Notices of the Royal Academy Society Letters edisi teranyar.
Lubang hitam merupakan misteri alam yang diperkirakan terbentuk dari bintang sangat besar yang telah mati karena menghabiskan seluruh energinya. Saat pusatnya tak menghasilkan dorongan ke luar, dinding bintang malah runtuh dan menarik obyek-obyek di sekitarnya. Kekuatan gravitasi lubang hitam sangat besar bahkan menarik cahaya ke dalam. Lubang hitam gelap gulita dan hanya terdeteksi dari aktivitas gelombang radio dan obyek-obyek yang terlihat mengelilinginya.
Berdasarkan data NASA, galaksi NGC 253 berada pada jarak sekitar 13 juta tahun cahaya dari Bumi (bukan 11 tahun cahaya seperti tertulis sebelumnya). Galaksi yang menonjol di konstelasi Sculptor ini memiliki lebar bentangan 70.000 tahun cahaya. 1 tahun cahaya setara dengan 9,5 triliun kilometer.
»»  Baca Selengkapnya...

Galaksi Bima Sakti Terancam ditabrak Awan Raksasa

Gumpalan awan raksasa yang mengandung gas hidrogen dalam volume sangat besar tengah melesat mendekati piringan Galaksi Bima Sakti, tempat tata surya kita berada. Tabrakan dahsyat yang diperkirakan terjadi antara 20-40 juta tahun lagi akan menghasilkan kembang api spektakuler di langit. Objek tersebut diberi nama Awan Smith, diambil dari nama Gail Smith, seorang astronom AS yang mendeteksinya pertama kali pada tahun 1963 saat meneliti di Universitas Leiden, Belanda. Sejak ditemukan, para astronom masih berdebat apakah awan tersebut benar-benar mendekati galaksi Bimasakti atau menjauhinya. Rekaman data yang ada selama ini masih terbatas dan tidak jelas apakah objek tersebut bagian dari kabut Bimasakti atau masih bergerak ke arahnya. Sejauh ini, para peneliti hanya mendeteksi gas dan tidak ada satupun bintang di dalamnya. Satu-satunya cara melihtanya adlah dengan teleskop radio karena gas dingin tidak memancarkan cahaya, tetapi memantulkan gelombang radio. Jika dilihat dari Bumi, lebar gumpalan awan tersebut sebanding dengan 30 kali lebar Bulan. Dari kepala ke ujung ekornya cukup untuk menyelimuti rasi bintang Orion. Hasil pengamatan baru menggunakan teleskop radio terkendali paling besar di dunia, Teleskop Green Bank (GBT) di Virginia Barat, AS, menunjukkan bahwa objek tersebut bergerak ke arah galaksi Bimasakti. Bahkan, seperti dilaporkan gabungan tim astronom dari Observatorium Astronomi Radio Nasional AS (NRAO) dan Universitas Winconsin Whitewater dalam pertemuan Masyarakat Astronomi Amerika ke-211 di Austin, Texas baru-baru ini, gaya dorongnya telah menyentuh kabut Bimasakti. "Jika tabrakan terjadi, hal tersebut akan memicu lahirnya formasi bintang-bintang baru. Akan banyak bintang raksasa yang terbentuk, berumur pendek, dan meledak sebagai supernova yang memancarkan cahaya menyilaukan," ujar Ketua tim peneliti, DR. Felix Lockman, dari NRAO. Sebab, Awan Smith membawa energi sangat besar berupa gas hidrogen yang cukup untuk membentuk jutaan bintang seukuran Matahari. Awan Smith merupakan gumpalan gas yang berukuran panjang mencapai 11.000 tahun cahaya dan lebar 2.500 tahun cahaya. Objek tersebut saat ini berada 40.000 tahun cahaya dari Bumi dan 8.000 tahun cahaya dari piringan Bimasakti. Objek yang pantas disebut kabut monster di ruang kosmos ini bergerak dengan kecepatan 240 kilometer perdetik dan diperkirakan menabrak piringan galaksi Bimasakti dengan kemiringan 45 derajat. Tabrakan akan terjadi di pinggir piringan Bimasakti yang jarak ke pusatnya hampir sama dengan jarak tata surya kita ke pusat galaksi. Namun, posisinya jauh dari tata surya kita, diperkirakan berjarak 90 derajat terhadap pusat piringan. "Kami tidak tahu dari mana asalnya, apalagi orbitnya membingungkan, namun kami katakan bahwa ia mulai berinteraksi dengan bagian terluar Bimasakti," tandas Lockman.
»»  Baca Selengkapnya...

Olympus Mons, Gunung Terbesar di Tata Surya

Olympus Mons, adalah gunung terbesar planet Mars yang juga merupakan gunung terbesar di tatasurya (Solar System) kita. Gunung ini menjulang dengan tinggi mencapai 27 km dan memiliki diameter 550 km. Pada bagian kakinya, Olympus Mons di kelilingi oleh tebing terjal dengan ketinggian minimum 6 km. Pada bagian puncaknya, gunung ini memiliki kawah

berdiameter 85 km.


Anda bisa menumpukkan tiga buah Mount Everest, titik tertinggi di bumi, dan gunung ini masih lebih tinggi dari tumpukan itu.
Gunung berdiameter terbesar di bumi adalah pegunungan Mauna Loa (Hawai) yang memiliki diameter sepanjang 120 km. Bandingkan dengan diameter Olympus Mons (550 km).

sumber: http://isidunia.blogspot.com/2010/10/olympus-mons.html
»»  Baca Selengkapnya...

Ditemukan Tanda - Tanda Kehidupan di Planet Mars


Pertama kali Mars diobservasi adalah pada abad ke-17. Dan baru 2 abad kemudian, para astronomer mengetahui adanya kemiripan antara Mars dan Bumi. Contoh, panjang 1 hari di Mars hampir sama dengan di Bumi, yang artinya Mars mengalami musim-musim seperti yang ada di bumi. Perkiraan ini memunculkan teori adanya sebuah bentuk kehidupan di Mars. Tahun 1854, William Whewell, seorang fellow di Trinity College, Cambridge mengeluarkan teori bahwa di Mars terdapat laut, daratan dan bahkan bentuk kehidupan.
mars2 Ditemukan Tanda Kehidupan DI MarsTeori tentang kehidupan di Mars akhirnya benar-benar populer pada akhir abad ke-19 ketika sebuah observasi teleskopik atas permukaan Mars menemukan adanya kanal-kanal misterius. Pada tahun 1906, Seorang yang bernama Percival Lowell menerbitkan sebuah buku berjudul Mars, yang diikuti sequelnya Mars and its canals. Dalam bukunya ia berspekulasi bahwa kanal-kanal tersebut dibangun oleh peradaban yang telah lama musnah. Ide ini juga menginspirasi HG Wells untuk menulis cerita tentang Invasi alien dari Mars ke bumi dalam buku The War of the Worlds.
Beberapa wahana ruang angkasa telah dikirim untuk meneliti planet Mars, diantaranya Mariner 4, Viking dan Opportunity. Viking menemukan peningkatan kadar CO2 pada tanah Mars. Karena itu Gilbert Levin, seorang ilmuwan menyimpulkan adanya kehidupan di Mars. Sedangkan ilmuwan lainnya segera membantah dengan menyebutkan bahwa bahwa bahan kimia superoxidant pada tanah bisa saja terjadi tanpa campur tangan kehidupan. Lagipula, 4 miliar tahun yang lalu, Mars telah kehilangan medan magnetnya sehingga Ionosfer Mars tidak bisa mencegah terjadinya badai matahari atau radiasi yang menyebabkan bentuk kehidupan menjadi mustahil untuk bertahan.

3 Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars 
Namun penemuan terbaru pada tahun 2000 menemukan unsur hematite pada permukaan Mars yang mengindikasikan adanya air di masa lampau. Yang lebih mengejutkan juga ditemukan adanya selokan-selokan pada permukaannya. Pada tahun 2004, NASA mengumumkan bahwa pada masa lampau Mars adalah sebuah planet basah. Penyelidikin lanjutan pada tahun 2006 juga mengkonfirmasi adanya penemuan selokan-selokan air tersebut.
Pada Desember 2006, Mars Global Surveyor menemukan adanya pergeseran bentuk sedimen dan celah pada permukaan Mars. Para ilmuwan menyimpulkan pergeseran itu terjadi akibat aliran air, yang berarti pada permukaan Mars saat ini masih terdapat air dalam bentuk aslinya.
Misi Mars terbaru adalah Phoenix Lander yang diluncurkan pada 25 Mei 2008. Phoenix juga menemukan adanya kandungan air pada bebatuan Mars.
Walaupun masih diadakan penelitian intensif mengenai Mars, beberapa foto yang diambil oleh wahana antariksa menemukan beberapa gambar aneh. Mungkin banyak yang sudah mengetahui wajah yang terukir pada planet Mars yang sangat terkenal itu. Tapi bagi yang belum mengetahuinya, pada akhir tahun 1976, Viking yang memotret permukaan planet Mars mendapatkan sebentuk wajah pada planet Mars. Inilah foto tersebut.

 Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars
marsface Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars
Sejak foto tersebut muncul untuk pertama kalinya, maka spekulasi tentang adanya extra terestrial di Mars kembali muncul. foto-foto berikutnya juga memunculkan tanda tanya yang lebih besar lagi. lihatlah beberapa diantaranya :

Penemuan monumen kolosal di permukaan Mars

Bahkan bukan hanya tengkorak raksasa, di foto dibawah ini juga terlihat adanya ukiran hewan.

1 official view Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars
2 close view Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars

Foto dibawah ini sebenarnya adalah foto yang sama dengan lokasi penemuan tengkorak raksasa dan ukiran hewan diatas. Namun pada foto kali ini, yang diambil pada situs NASA menunjukkan adanya manipulasi foto yang halus. Tengkorak dan ukiran hewan telah dihilangkan. Para peneliti UFO percaya pemerintah/NASA telah menghapusnya.

5 viking view Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars

Penemuan tengkorak manusia di Mars

Foto pertama ini berasal dari NASA, tengkorak manusia yang ada di dalam gambar tersebut pertama kali diidentifikasi oleh Eduardo Lucena dari Brazil.

1 102 skull context view Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars
2 102 skull closer views Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars
Tengkorak pada foto kedua dibawah ini pertama kali diidentifikasi oleh Michael Middleton dari Australia.
1 143 wide context view Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars
2 143 split 200x views Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars
3 143 split 300x 400x Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars

Penemuan tengkorak hewan di Mars


 Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars2 Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars

Penemuan sebuah patung manusia di Mars

Pertama kali diidentifikasi oleh Marcela Bravo pada tahun 2008.
1 134 statue wide 1x Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars
3 134 statue path 2x Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars
4 134 rolf varga image Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars
Apabila patung tersebut dilihat dari sisi sebaliknya, maka posisi patung tersebut persis seperti huruf Hieroglyph Mesir yang berarti “Ibu dan Anak” (lihat gambar dibawah)
5 134 hieroglyph Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars
Sedangkan sederetan simbol dibawah ini adalah kode-kode yang ditemukan di sebuah kuil kuno di Brazil pada tahun 1753. Dalam foto-foto yang dihasilkan oleh tiga ekspedisi ke Mars terlihat adanya simbol yang sama tertera di permukaan Mars, sama dengan simbol berbentuk seperti angka 5 yang diberi warna biru. Kuil Brazil tersebut ditemukan di sebuah kota kuno dengan struktur bangunan yang rumit dengan batu-batuan megalitik yang besar. Hal ini semakin meneguhkan para Ufolog yang mempercayai bahwa peradaban kuno umat manusia berasal dari planet lain.
7 134 hieroglyph 5 Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars

Penemuan objek-objek aneh lainnya

Objek aneh di bawah ini pertama kali diidentifikasi oleh Salvatore Valentin Carta dari Argentina. Benda ini jelas menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok dalam bentuknya dengan benda-benda lain di sekitarnya. Jelas objek di bawah ini adalah sebuah anomali.

6 134 added evidence Ditemukan Tanda Kehidupan DI Mars 

Sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=19442
»»  Baca Selengkapnya...

Supernova

Supernova merupakan ledakan bintang, atau bisa dikatakan sebagai salah satu cara dari bintang dalam mengakhiri masa hidupnya. Nah, supernova itu sendiri memiliki peran yang sangat penting untuk bisa memahami Galaksi kita. Kenapa begitu?? Supernova memanaskan medium antar bintang, dan mendistribusikan elemen berat (elemen selain Hidrogen dan Helium merupakan elemen berat -red) keseluruh Galaksi dan mempercepat sinar kosmik.
Sebenarnya, supernova itu sendiri memiliki dua tipe, yakni supernova yang terjadi dari bintang massif tunggal dan supernova yang terjadi akibat transfer massa ke bintang katai putih dalam sistem bintang ganda. Perbedaan kedua tipe ini terletak pada proses pemicu terjadinya ledakan tersebut.
Supernova dari Bintang Tunggal bermassa besar
Bintang juga memiliki sebuah siklus hidup, dimana ia akan mengakhiri masa hidupnya suatu saat kelak. Salah satu caranya yah melalui Supernova. Tapi tidak semua bintang akan mengalami supernova. Supernova terjadi pada bintang yang massanya 8 kali massa matahari atau lebih massif dari Matahari. Nah, supernova akan terjadi ketika bintang tersebut tidak lagi memiliki cukup bahan bakar untuk proses fusi di inti bintang untuk memnciptakan tekanan keluar sehingga memicu terjadinya dorongan gravitasi kedalam massa bintang yang besar.
Pertama-tama, bagian luar bintang akan mengembang menjadi raksasa merah, sementara di bagian dalamnya, pusat bintang akan menghasilkan gravitasi dan memulai terjadinya pengerutan. Saat mengerut pusat bintang menjadi lebih panas dan rapat. Pada titik ini, sejumlah reaksi nuklir mulai terjadi….dan bisa menghentikan keruntuhan pusat bintag untuk sementara. Perlu diingat, Hanya Sementara. Saat di pusat bintang hanya tersisa besi, maka tak ada lagi pembakaran. Saat fusi tak lagi terjadi, dalam hitungan detik, bintang memulai fasa akhirnya yakni keruntuhan gravitasi. Temperatur di pusat bintang naik melebihi 100 miliar, kemudian pusat bintang mengalami tekanan dan mengecil namun kemudian mengembang secara tiba-tiba. Energi pengembangan ini ditransfer ke selubung bintang, yang kemudian memicu terjadinya ledakan dan menimbulkan gelombang kejut. Saat gelombang kejut ini bertemu dengan materi bintang di lapisan terluar, materi dipanaskan dan mengalami pembakaran membentuk elemen baru dan isotop radioaktif. Nah, gelombang kejut ini juga akan menyebabkan terlepasnya materi ke angkasa. Materi yang terlepas saat ledakan bintang terjadi saat ini dikenal dengan nama supernova remnant.
Ledakan Bintang katai Putih
Tipe lainnya dari Supernova melibatkan ledakan tiba-tibda dari bintang katai putih dalam sistem bintang ganda. Bintang katai putih merupakan titik akhir hidup bintang yang massanya sekitar 5 massa matahari. Katai putih sendiri memiliki massa kurang dari 1.4 massa matahari dan hampir seukuran Bumi.
Dalam sistem bintang ganda, bintang katai putih akan menarik sejumlah materi bintang pasangannya jika keduanya sangat dekat. Nah hal ini akan memicu terjadinya tarikan gravitasi pada objek yang rapat seperti katai putih. Pada saat materi yang ditarik ini ditransfer ke katai putih, dan saat massa bintang katai putih mencapai 1.4 kali massa Matahari, tekanan di pusat akan mencapai batas ambang bagi nuclei karbon dan oksigen untuk memulai pembakaran secara tidak terkontrol yang pada akhirnya menjadi pemicu terjadinya ledakan.
»»  Baca Selengkapnya...

Penemuan 2 Planet Baru

Tim astronom dari Inggris, Perancis dan Swiss berhasil menemukan 2 planet seukuran Jupiter disekitar bintang jauh. Atmosfernya secara perlahan disapu oleh radiasi bintang induk mereka. Kedua planet ini merupakan planet pertama yang ditemukan oleh program SuperWASP (Wide Angle Search for Planet).
Bintang induk yang diorbit kedua planet tersebut kedua-duanya mirip dengan Matahari. Yang satu lebih panas, terang dan besar sementara yang satu lagi lebih dingin, redup dan kecil. Bintang yang lebih besar berada di konstelasi Andromeda yang jaraknya lebih dari 1000 tahun cahaya. Sedangkan bintang yang lebih kecil, berada di rasi Delphinus, yang jauhnya hanya sekitar 500 tahun cahaya. Walaupun kedua bintang itu terlalu lemah untuk bisa dilihat dengan mata bugil, namun keduanya masih mudah dideteksi oleh teleskop kecil.
Planet yang ditemukan ini dikenal dengan nama WASP-1b dan WASP 2-b, keduanya juga merupakan tipe “hot jupiter�. WASP-1b dan WASP-2b merupakan planet gas raksasa, sama seperti Jupiter, namun jarak keduanya dengan bintang induknya jauh lebih dekat dibanding Jupiter dan Matahari. Kalau jarak Jupiter 800 juta km dari Matahari dan mengorbit Matahari setiap 12 tahun, WASP-1b hanya berjarak 6 juta km dan mengobrit bintang setiap 2.5 hari dan WASP-2b berjarak 4.5 juta km dengan periode orbit 2 hari.
Orbit yang yang sangat dekat ini berarti planet-planet tersebut jauh lebih panas dibanding Merkurius, yang jaraknya mendekati 60juta km dari Matahari dan memiliki temperatur permukaan lebih dari 400 derajat Celsius. Diperkirakan temperatur WASP-1b lebih dari 1800 derajat Celsius. Kedua planet juga menunjukkan tanda adanya kehilangan atmosfer ke angkasa.
Tim SuperWASP saat ini merencanakan untuk melalukan observasi lanjutan terhadap kedua sistem keplanetan tersebut menggunakan Hubble Space Telescope dan Spitzer Space Telescope. Tujuannya untuk mendapatkan ukuran dan temperatur kedua planet secara akurat, selain itu juga untuk mencari indikasi adanya planet lain di sistem tersebut.
»»  Baca Selengkapnya...

Teori Proto - Planet

Pencarian teori pembentukan Tata Surya sampai dengan tahun 1960 menunjukkan betapa tidak mudahnya menemukan satu teori yang paling memungkinkan. Apalagi masing-masing teori yang dibangun masih menyisakan masalah mendasar yang belum terpecahkan. Sejak tahun 1960, pendekatan baru maupun pengembangan dari pendekatan yang sudah ada menjadi perhatian dalam pencarian teori pembentukan Tata Surya. Teori-teori yang lahir sejak tahun 1960 adalah Teori Proto-planet (1960, 1988), Teori Akresi (1961), Teori Capture (Penangkapan) (1964), Teori Nebula Matahari (1973) dan Teori Laplace Modern (1974).
Teori Proto-planet
Proto planet merupakan embrio planet didalam piringan yang tarik menarik satu sama lainnya secara gravitasi dan bertubrukan. Proto planet akan saling mengganggu orbit satu sama lainnya dan bertabrakan membentuk planet (terjadi coalesce yang membentuk planet). Teori proto planet dikemukakan McCrea pada tahun 1960 dengan ide awal, pembentukan bintang dan planet harus dipertimbangkan secara bersamaan. Tak mungkin pembentukan planet dipertimbangkan tanpa memikirkan bagaimana bintang terbentuk. Untuk mendukung idenya, McCrea kemudian membangun teori untuk mendukung keberadaan idenya tersebut. Teori tersebut menunjukkan pembentukkan sebuah sistem, bintang dan planet. Teori ini juga menunjukkan bagaimana bintang bisa memiliki sebagian besar massa dan planet-planet memiliki sebagian besar momentum sudut sistem.
Titik awal yang digunakan McCrea adalah awan antar bintang yang terdiri dari gas dan debu yang akan membentuk galactic cluster. Sekitar 1% massa awan berbentuk buiran sedangkan sisanya merupakan campuran kosmik daro hidrogen dan helium. Asumsinya awan berada dalam kondisi turbulensi supersonik. Tabrakan antar elemen terjadi didalamnya, mengakibatkan hampir seluruh massa awan memiliki daerah yang dipadatkan dan berisi gas. Dalam model awal pada tahun 1960, daerah yang dipadatkan tersebut disebut floccules dengan massa 3 kali massa Bumi. Tahun 1988, McCrea memperbaharui modelnya dan meningkatkan massa floccules menjadi lebih dari 100 kali massa Bumi dan kemudian didesain ulang sebagai proto-planet. Istilah blob akan dipakai untuk kumpulan massa tersebut sehingga dapat dibedakan dari proto planet, embrio (berasal dari coalesce blob) yang akan mengalami keruntuhan dan membentuk planet.
Di dalam awan, terjadi tubrukan inelastik antar blob yang mengakibatkan terjadinya coalesce dan blob tersebut akan bertumbuh menjadi kumpulan yang lebih besar. Di setiap daerah dalam awan, akan ada satu objek (kumpulan hasil coalesce / gabungan blob yang lebih besar dibanding materi dsekitarnya) di setiap daerah yang menjadi dominan dan menyerap hampir semua blobs yang ada disekitarnya, dan pada akhirnya membentuk proto bintang. Proto bintang ini akan memulai perjalanan evolusinya di Deret Utama. Blobs yang kemudian menjadi proto bintang berasal dari berbagai arah, akibatnya momentum sudut yang dihasilkan juga akan berasal dari hasil acak kontribusi salah satu blobs. Momentum sudut yang hilang akan dimiliki oleh beberapa blob atau kumpulan blob yang sudah terakresi menjadi satu, di orbit sekeliling proto bintang. McCrea menunjukkan dalam hal ini jumlah blob atau kumpulan yang dibutuhkan kecil dan mendekati jumlah planet yang teramati saat itu.
Planet raksasa seperti Jupiter diperkirakan terbentuk dari hasil coalesce sejumlah blob. McCrea juga mengasumsikan semua proto planet pada awalnya lebih masif dibanding planet yang tersisa saat ini dan tampaknya sebagian diantaranya mengalami kehilangan massa. Dalam proses keruntuhan, proto planet akan menjadi tidak stabil dan pecah menjadi 2 bagian dnegan perbandingan massa 8 : 1. Spin momentum sudut proto planet akan tampak sebagai gerak relatif antara kedua fragmen yang mengitari pusat massa. Dalam gerakannya, fragmen yang kurang masif akan memiliki gerak relatif 8 kali gerak fragmen yang lebih masif.
Kecepatan lepas di bagian terluar Tata Surya sangat kecil dan menurut McCrea kehilangan massa yang terjadi hanya sedikit di daerah planet-planet utama dan meninggalkan sebagian besar massanya (planet) tetap stabil berotasi dengan spin (putaran) yang cepat. Hasil lain dari keruntuhan proto planet ke dalam 2 bagian kecil, kedua bagian tersebut akan terkondensasi dan tertahan oleh fragmen yang lebih besar menjadi satelit dari sistem tersebut (fragmen yang lebih besar merupakan planet yang terbentuk).
Proses yang berbeda terjadi di bagian dalam sistem. Asumsinya, pemisahan rotasi akan mengambil alih setelah terjadinya pengumpulan materi dan terjadinya ketidakstabilan rotasi di inti. Disini objek akan terbentuk dan objek yang kecil ini tidak akan memiliki kecepatan lepas yang cukup karena berada terlalu dekat dengan Matahari. Menurut McCrea pemisahan inti yang membentuk planet tersebut adalah pasangan Bumi – Mars dan Merkurius – Venus.
Potensi Masalah yang dihadapi oleh teori ini, blobs haruslah stabil untuk beberapa lama untuk bergabung dan membentuk proto bintang atau kumpulan-kumpulan kecil. Selain itu harus ada demonstrasi yang menunjukkan kalau momentum sudut yang hilang setelah terbentuk proto bintang memang diambil oleh orbit proto planet dan bukan hal lainnya. Selain itu mekanisme dasar yang diberikan McCrea tidak menjelaskan sistem planet yang datar dalam orbit lingkaran.

sumber : The Origin and Evolution of the Solar System (M. M. Woolfson)
»»  Baca Selengkapnya...

Teori Akresi

Bentuk awal dari teori ini diberikan oleh Schmidt (1944) tapi kemudian dikembangkan dan dimodifikasi oleh Lyttleton (1961). Secara umum, idenya adalah Matahari setelah melewati awan debu akan memiliki selubung gas dan debu dimana didalam selubung tersebut akan terjadi pembentukan planet dengan cara akresi. Dalam modifikasi yang diajukan Lyttleton, ia menunjukkan kalau ide Schmidt mengenai benda ketiga tidak diperlukan.
Dalam proses akresi, materi yang ditangkap akan mengalami pemipihan menjadi bentuk yang mirip piringan. Manurut Lyttleton, akan terbentuk piringan debu yang tipis di tempat objek planet akan berkembang dan kemudian akan diakresi membentuk objek yang lebih besar.
Menurut Harris yang juga mngerjakan dinamika akresi, satelit di dalam sistem Tata Surya terbentuk dari akresi puing-puing debu yang tersisa disekitar planet yang baru terbentuk. Di dalam proses akresi, planetesimal kecil tidak hanya terakresi tapi juga akan mengalami fragmentasi.
Tidak dapat dipungkiri teori akresi ini cukup meyakinkan untuk beberapa alasan. Dengan memberikan kondisi Matahari yang sudah ada, teori ini mampu memecahkan masalah momentum sudut meskipun untuk itu planet harus terbentuk dari campuran gas dan debu yang tersebar. Permasalahan yang dihadapi teori ini, salah satunya mengenai temperatur awan antar bintang yang terlalu rendah. Temperatur yang diajukan Lyttleton adalah 3.18 K, pada temperatur sedingin ini, hidrogen dalam awan akan berbentuk atom. Kisaran temperatur yang bisa diterima untuk awan antar bintang yang dingin berada dalam rentang 10-100 K.
Masalah lainnya adalah kecepatan 0.2 km s-1. Harga kecepatan tersebut tidak bisa diterima jika interaksi gravitasional antara Matahari dan dan awan juga diperhitungkan. Kecepatan Matahari di Galaksi untuk bintang tipe Matahari ~20 km s-1, dan dengan kecepatan yang sangat rendah yang diberikan Lyttleton, akan sulit bagi Matahari untuk bisa mendekati awan. Dengan mempertimbangkan juga percepatan yang terjadi pada awan dan bintang akibat gaya tarik gravitasi satu sama lainnya, maka kecepatan minimum yang dibutuhkan agar bisa terjadi kontak berkisar pada 0.3 km s-1. Harga inipun masih lebih besar dibanding harga kecepatan yang diberikan Lyttleton.
Mekanisme akresi juga dipelajari dan dikritisi oleh Aust dan Woolfson (1973). Mereka menunjukkan akan ada distorsi pasang surut yang luas dan filamen materi akan tersapu keluar dari awan dan mengalami penangkapan. Aust dan Woolfson memberi parameter lain yang akan membuat teori akresi Lyttleton lebih dapat diterima. Mereka mengasumsikan tidak semua materi yang ditangkap akan membentuk planet – sebagian materi akan hilang dari sistem atau ditangkap Matahari -.
Salah satu model simulasi yang menggunakan teori akresi sebagai teori terbentuknya Tata Surya adalah model ACRETE yang dikembangkan Dole (1969).


sumber : The Origin and Evolution of the Solar System (M. M. Woolfson)
»»  Baca Selengkapnya...

Metode Penentuan Jarak Astronomi

Di dalam astronomi, metode yang digunakan dalam penentuan jarak adalah metode paralaks. Paralaks merupakan metode yang digunakan dengan melihat pada pergeseran dua titik tetap relatif satu terhadap yang lain dilihat dari sudut pandang pengamat.
Paralaks Trigonometri
Penentuan jarak bintang baru berhasil dilakukan pada abad ke-19 dengan menggunakan metode paralaks trigonometri. Akibat dari gerak edar bumi, bintang dekat akan terlihat bergeser terhadap bintang jauh. Dan bintang tersebut seolah bergerak menempuh lintasan ellips relatif terhadap latar belakang bintang yang jauh. Gerak ellips tersebut merupakan pencerminan gerak bumi. Sudut yang dibentuk oleh bumi dan matahari ke bintang inilah yang diebut paralaks bintang. Semakin jauh letak bintang, lintasan ellipsnya makin kecil, paralaksnya juga makin kecil.
clip_image002[1]
Dengan mengetahui jarak bumi – matahari, serta paralaks bintang, jarak bintang bisa diketahui dari hubungan :
clip_image004[1]
Metode paralaks trigonometri hanya bisa digunakan untuk mendapatkan jarak bintang-bintang terdekat (untuk jarak ratusan parsec).
Paralaks Spektroskopik
Dalam pengamatan, terang suatu bintang diukur dalam satuan magnitudo. Dari pengamatan magnitudo semu bintang serta kelas spektrum bintang juga bisa diketahui. Dengan mendefinisikan magnitudo mutlak bintang sebagai magnitudo bintang yang diandaikan diamati pada jarak yang sama, yaitu 10 parsec. Untuk bintang-bintang jauh, dengan membandingkan kelas spektrum bintang dari hasil pengamatan dengan bintang yang kelas spektrumnya sama dan sudah diketahui jaraknya, magnitudo mutlak bintang bisa diketahui dari hubungan pada temperatur (kelas spektrum dengan M). Selisih magnitudo semu dan magnitudo mutlak akan memberikan harga jarak bintang dari pengamat setelah dikoreksi terhadap serapan antar bintang :
clip_image006[1]
Kondisi tanpa adanya debu akan mempermudah penentuan magnitudo absolut bintang. Untuk bintang dekat, efek debu kecil dan bisa diabaikan.
Paralaks Rata-Rata
Perhitungan jarak bintang dengan paralaks rata-rata dilakukan untuk bintang-bintang yang sangat jauh. Penentuan paraks rata-rata melibatkan sejumlah bintang yang memiliki kelas spektrum dan kelas luminositas yang sama sehingga diharapkan magnitudo mutlak semua bintang dalam gugus akan sama.
Untuk menentukan paralaks rata-rata, diamati gerak bintang yang akan memberi informasi jaraknya. Gerak sejati bintang bisa diuraikan dalam 2 komponen yakni komponen clip_image008[1] yang searah dengan arah apex-antapex dan komponen clip_image010[3] yang tegak lurus arah apex – antapex dan tidak terpengaruh gerak matahari. Bila clip_image012[1]merupakan komponen kecepatan tangensial pada arah clip_image010[4], maka : clip_image015[1], clip_image010[5] yang digunakan adalah harga rata-rata untuk semua bintang. Paralaks rata-rata sekelompok bintang itu akan memenuhi persamaan : clip_image017[1] dimana clip_image019[1]. Dari pengamatan terhadap clip_image021[1] dan clip_image023[1]masing-masing bintang, harga magnitudo mutlak bintang kelompok itu bisa ditentukan dari hubungan :
clip_image025[1]
Dari sini harga paralaks masing-masing bintang bisa ditentukan dan jarak bisa diketahu.
Paralaks Gerak Gugus
Penentuan jarak berdasarkan gerak bintang juga bisa dilakukan dengan mengamati gerak sejati bintang dalam gugus bintang. Untuk gugus yang tidak terlampau jauh, lintasan bintang dalam gugus terlihat memusat pada suatu titik. Titik temu vektor gerak sejati inilah yang disebut titik vertex. Jika A merupakan sudut yang dibentuk oleh gugus bintang dan titik vertex dan V merupakan kecepatan gugus dalam ruang dimana Vrclip_image027[1] Dengan mengetahui kecepatan tangensial, jarak bisa diketahui dari hubungan : clip_image029[1] , clip_image031[1] merupakan gerak sejati bintang. merupakan kecepatan radialnya, maka kecepatan tangensialnya gugus adalah :
clip_image032[1][1]
Paralaks Dinamik
Dalam pengamatan bintang ganda visual, parameter orbit yang dapat ditentukan adalah sudut inklinasi clip_image034[1], sudut setengah sumbu besar clip_image036[2], eksentrisitas orbit clip_image038[1], periode orbit clip_image040[1]. Hubungan antara sudut setengah sumbu besar clip_image036[3] dan setengah sumbu besar clip_image042[1] adalah : clip_image044[1] atau clip_image046[1] dengan jarak dinyatakan dalam AU sehingga hubungan jarak dan paralaks yang berlaku adalah clip_image048[2] ; paralaks dalam detik busur.
Dari hubungan Hukum Keppler Ketiga didapat :
clip_image050[1]
Jika sudut setengah sumbu besar orbit masing-masing bintang adalah clip_image052[1]dan clip_image054[1] maka :
clip_image056[1] atau clip_image058[1], Dan massa bintang memenuhi : clip_image060[1].
Pada sistem bintang ganda visual, magnitudo mutlak bolometrik setiap komponen dapat ditentukan, dan luminositasnya dapat diketahui : clip_image062[1], dan dari hubungan empirik massa-luminositas :
clip_image064[1]
atau :
clip_image066[1]
Dari hubungan-hubungan ini dapat diketahui jarak bintang jika pada pengamatan bintang ganda visual telah diketahui clip_image068[1] dengan langkah sebagai berikut :
  • Langkah 1 : Pendekatan pertama, anggap massa total clip_image070[1]
  • Langkah 2 : Tentukan paralaks dari hubungan clip_image072[1]
  • Langkah 3 : Tentukan magnitudo mutlak bolometrik untuk masing-masing komponenclip_image074[1]
  • Langkah 4 : Tentukan massa masing-masing bintang dari hubungan massa-luminositas
  • Langkah 5 : Ulangi langkah 2
  • Langkah 6 : Ulangi langkah 3
Langkah-langkah ini diulang sampai mendapat beda harga p, M1 dan M2 yang cukup kecil. Jarak bisa didapat dari hubungan paralaks dan jarak : clip_image048[3]
Cepheid Sebagai Lilin Penentu Jarak
Tahun 1784, John Goodricke menemukan kalau bintang Cepheid berubah cahayanya secara berkala dan diduga merupakan komponen bintang ganda. Tapi pada tahun 1914 Shapley menemukan kalau bintang ini berubah-ubah cahayanya bukan karena Cepheid merupakan bintang ganda gerhana melainkan bintang ini berdenyut.
Secara teori hubungan periode perubahan cahaya dan rapat massa bintang memberikan : clip_image076[1]
Pada bintang Cepheid juga ditemukan hubungan antara luminositas dan periode perubahan cahaya. Hubungan ini menyatakan semakin terang suatu Cepheid, makin besar periodenya. Untuk mengetahui jarak variabel Cepheid di galaksi lain, diambil hubungan titik nol yakni titik pada periode dimana magnitudo mutlaknya nol. Untuk mendapatkan hubungan titik nol, dapat ditentukan dengan membandingkannya dengan Cepheid dalam Galaksi kita pada gugus bintang yang jaraknya sudah diketahui. Dengan mengandaikan Cepheid yang diamati memiliki sifat sama dengan Cepheid di Galaksi kita, maka periode perubahan cahaya dan luminositasnya dianggap sama juga. Karena luminositas dianggap sama maka Magnitudo mutlak bisa diketahui dari hubungan : clip_image078[1]
Maka modulus jarak clip_image080[1]bisa diketahui dengan m dari pengamatan pada bintang variabel Cepheid galaksi lain yang diamati, maka jarak pun bisa diketahui : clip_image084[1]
»»  Baca Selengkapnya...